Wartamutukawi — Pendidikan tidak hanya berbicara tentang ruang kelas, kurikulum, atau capaian akademik. Pendidikan adalah ikhtiar panjang membangun peradaban. Karena itu, tema "Transformasi Pendidikan Bermutu untuk Semua: Mewujudkan Sumber Daya Unggul Berkemajuan" yang diangkat dalam Konsolidasi Pendidikan Muhammadiyah Jawa Timur menjadi pengingat bahwa tantangan pendidikan saat ini bukan sekadar meningkatkan angka partisipasi sekolah, tetapi memastikan setiap anak memperoleh pendidikan yang bermutu, adil, inklusif, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Muhammadiyah sejak awal berdirinya telah menjadikan pendidikan sebagai instrumen dakwah dan tajdid. KH. Ahmad Dahlan tidak hanya mendirikan sekolah, tetapi menghadirkan paradigma baru bahwa ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern harus berjalan beriringan. Semangat inilah yang membuat pendidikan Muhammadiyah mampu bertahan lebih dari satu abad dan terus berkembang menjadi salah satu jaringan pendidikan terbesar di Indonesia.

Namun, memasuki era Revolusi Industri 5.0 dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence), tantangan pendidikan semakin kompleks. Dunia membutuhkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, literasi digital, serta kepekaan sosial. Sekolah tidak lagi cukup menghasilkan peserta didik yang pandai menghafal, tetapi harus mampu melahirkan generasi yang mampu memecahkan persoalan kehidupan.

Di sinilah makna transformasi pendidikan menjadi sangat penting. Transformasi bukan berarti meninggalkan nilai-nilai lama, melainkan memperkuat tradisi dengan inovasi. Pendidikan Muhammadiyah harus tetap berakar pada nilai Al-Qur'an dan As-Sunnah, tetapi memiliki cara baru dalam mengelola pembelajaran, kepemimpinan sekolah, pengembangan guru, pemanfaatan teknologi, hingga membangun jejaring global.

Mutu pendidikan juga tidak boleh menjadi hak kelompok tertentu. Tema "untuk semua" mengandung pesan keadilan. Setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi, wilayah, maupun kondisi sosial, berhak memperoleh layanan pendidikan terbaik. Sekolah Muhammadiyah harus menjadi rumah bersama yang menghadirkan kesempatan belajar yang setara, ramah terhadap keberagaman, serta mampu menjangkau masyarakat hingga daerah terpencil.

Transformasi pendidikan juga harus dimulai dari guru. Guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator pembelajaran yang membimbing peserta didik untuk menemukan pengetahuan. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi guru dalam pedagogi, teknologi, riset, serta penguatan nilai-nilai keislaman menjadi investasi utama. Guru yang terus belajar akan melahirkan murid yang tidak pernah berhenti berkembang.

Di sisi lain, kepemimpinan sekolah perlu berubah dari sekadar administratif menjadi kepemimpinan transformatif. Kepala sekolah harus menjadi inspirator perubahan, membangun budaya mutu, memperkuat kolaborasi dengan orang tua, alumni, perguruan tinggi, dunia usaha, serta pemerintah. Sekolah tidak bisa berjalan sendiri, tetapi harus menjadi pusat pembelajaran masyarakat.

Lebih jauh lagi, pendidikan Muhammadiyah perlu memperkuat ekosistem inovasi. Laboratorium, pusat kewirausahaan, inkubator bisnis siswa, riset sederhana, pembelajaran berbasis proyek, hingga penguatan literasi digital harus menjadi bagian dari budaya sekolah. Dengan demikian, lulusan Muhammadiyah tidak hanya siap mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja dan menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.

Sumber daya unggul yang berkemajuan bukanlah manusia yang hanya memiliki kecerdasan intelektual. Muhammadiyah mengajarkan konsep manusia berkemajuan yang utuh, yaitu memiliki kekuatan iman, keluasan ilmu, kematangan akhlak, kepedulian sosial, serta semangat memberi manfaat bagi sesama. Keunggulan akademik tanpa integritas akan kehilangan makna. Sebaliknya, karakter yang kuat akan menjadi fondasi lahirnya pemimpin masa depan.

Konsolidasi Pendidikan Muhammadiyah Jawa Timur menjadi momentum strategis untuk menyatukan visi seluruh amal usaha pendidikan Muhammadiyah. Saatnya seluruh sekolah saling belajar, berbagi praktik baik, memperkuat tata kelola, dan membangun sistem pendidikan yang adaptif terhadap perubahan global tanpa kehilangan jati diri sebagai gerakan dakwah dan tajdid.

Pada akhirnya, transformasi pendidikan bukan sekadar agenda organisasi, tetapi merupakan amanah peradaban. Pendidikan yang bermutu akan melahirkan generasi unggul; generasi unggul akan membangun bangsa yang maju; dan bangsa yang maju akan menghadirkan kemaslahatan bagi umat manusia.

Muhammadiyah telah membuktikan selama lebih dari satu abad bahwa pendidikan adalah jalan dakwah yang paling berkelanjutan. Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa transformasi tersebut terus berlangsung sehingga setiap sekolah Muhammadiyah mampu menjadi pusat lahirnya insan berilmu, berakhlak, berdaya saing global, sekaligus tetap membumi dalam nilai-nilai Islam Berkemajuan.

Transformasi pendidikan bukan pilihan, melainkan keniscayaan. Dan Muhammadiyah memiliki modal sejarah, nilai, serta sumber daya untuk memimpin perubahan itu menuju masa depan pendidikan Indonesia yang lebih bermutu, inklusif, dan berkemajuan.

 

Oleh: Prof. Triyo Supriyatno (Wakil Ketua PDM Kota Malang dan Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)